Tentang Kesendirian.















Kesendirian mengajarkanku untuk bisa mandiri. Sebab orang-orang di sekitar tidak selalu akan ada untukku, bersamaku. Aku tidak sedih. Sama sekali tidak. Aku sadar, diriku masih sering bergantung pada orang lain. Dan itu adalah sebuah kesalahan. Jadi, aku harus membayar kesalahanku itu.


Teman-teman di sekitarku juga sudah mengajarkan sesuatu kepadaku. Tentang kesendirian yang hampir setiap hari aku rasakan. Mereka sebenarnya ada untukku. Hanya, tetap saja aku merasa sepi. Ragaku ada bersama mereka, tapi jiwaku tidak. Ia berada di ruangan gelap yang tidak ada satu pun manusia di dalamnya. 

Aku sadar, di dalam sebuah pertemanan tidak harus selalu bersama. Sebab bukan hanya aku yang membutuhkan mereka. Mereka pun juga punya kehidupan mereka sendiri. Hanya terkadang aku egois, menginginkan mereka selalu ada bersamaku. Sehingga aku terbiasa untuk tidak ditinggal. Sampai suatu hari, akhirnya aku merasakan rasanya ditinggal. Dan menerimanya tidak mudah sama sekali. Mungkin aku terlihat kuat, namun nyatanya tidak.

Aku diam. Sebab aku tidak bisa mengungkapkannya. Ragaku diam, jiwaku berteriak. Aku ingin berhenti dari semuanya. Aku ingin menyudahi semuanya. Sebab aku rasa sudah tidak ada harapan lagi.

Mungkin pikiranku yang membuatku merasa sendiri.  Aku hanya lelah dengan semuanya. Ingin menyudahi hidup rasanya. Tapi ku pikir itu hanya percuma. Hanya menambah masalah saja.

“Setidaknya sendiri sejak awal lebih baik daripada bersama namun berakhir dengan ditinggal.” Pikirku.

Terkadang rasanya sulit. Mereka menganggap saya sebagai teman, namun sulit menganggap mereka sebagai teman. Kita dekat, namun tidak dengan hati kita. Raganya bersama, jiwanya tak satu.

Bukannya percuma memaksakan diri bersama? Ada ataupun tidak, rasanya sama saja. Mereka kan juga belum tentu senang dan butuh aku.

Proses mendewasakan diri :)



Komentar