SKIZOFRENIA - Cerpen





Menurut WHO (World Health Organization), di negara yang sedang berkembang, isu kesehatan mental masih menjadi topik yang terpinggirkan. 4 dari 5 penderita gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluarga pun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan penderita. Stigma terhadap penderira menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Di Indonesia sendiri, penderita gangguan mental seringkali disebut gila.
(Menjadi Manusia)

Cerita berasal dari kisah nyata seorang pasien pengidap Skizofrenia yang bernama Andari Dian Palupi yang berhasil pulih. Hanya sebagian kecil, sebagian besar cerita saya ubah.




SKIZOFRENIA

“Radin, sekarang kamu minum obat dulu ya  sayang…”
“Tidak! Tidak mau!”
Gadis itu memberontak, ingin kabur. Namun dokter dan suster menahannya. “Minum dulu obatnya ya Radin..”
“Ayo minum obatnya!”
“Jangan minum obat itu, siapa tahu ada racunnya!”
“Ayo minum!”
“Jangan!”
“Minum atau nanti ibu marah!”
“Cepat putuskan! Hahaha..”
Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Suara-suara itu muncul lagi di dalam kepalanya. “Aaaaa! Pergi! Jangan ganggu aku lagi!”
Prang!
Dua orang suster memegang tangan gadis itu, berusaha menahannya agar tidak menghancurkan benda lain lagi. Dokter yang sudah terbiasa berhadapan dengan pasien yang seperti itu, meminta suster untuk mengikatnya—agar tenang.
“Maaf ya Radin, kamu harus diikat dulu, biar tidak kacau.”
Gadis itu hanya menangis ketika tubunya diikat. Ini sudah kedua kalinya ia memberontak, tidak mau minum obat.
Seorang perempuan paruh baya mendekati gadis itu, “Radin anak bunda yang pintar, nanti talinya dilepas kok sayang.. yang penting sekarang Radin minum obat dulu ya.. biar lekas sembuh.” Ucapnya, sembari merapikan rambut gadis itu yang berantakan.
Gadis itu hanya mengangguk ragu. Setelah meminum obatnya, ia sudah kembali tenang. Ikatannya sudah bisa dilepas. Dengan wajah datarnya, gadis itu berjalan ke arah jendela kamar rawatnya. Menyaksikan langit yang ia pikir sedang menangisi keadaanya. “Jangan bersedih langit, nanti senja tidak hadir kembali.”
Gadis itu bernama Radinta Semesta. Dunianya tidak sama dengan dunia orang awam. Radin adalah dua kenyataan yang tidak pernah saling memahami. Meskipun beribu kali ia bertanya pada dirinya sendiri, ia tetap tidak bisa menjawab mengapa ia harus dilahirkan di dunia ini. Dunianya penuh imajinasi, pengkhayal handal pun akan kalah. Di dalam isi kepalanya ada orang lain yang selalu bersuara menakutkan. Jeritan, bisikan riuh, suara tawaan, semua itu yang ia dengar.
Tidak. Kalau kalian pikir ia gila, kalian salah. Radin tidak gila, sama sekali tidak. Mentalnya hanya terganggu. Namun jangan pikir kalau penyakit mental adalah perkara yang mudah. Coba saja kalian bayangkan, kalian hidup dengan dunia baru yang dipenuhi suara-suara asing. Apakah itu menyenangkan? Tidak sama sekali.
Di dalam dunia lain Radin, ia mempunyai seorang teman imajinasi yang menurutnya dari dunia lain, antah berantah sana. Teman imajinasi itu adalah seorang laki-laki ideal Radin.
Radin adalah pengidap Skizofrenia—gangguan yang mempengaruhi seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik. Bulan ini adalah bulan kedua sejak Radin didiagnosa mengidap Skizofrenia. Dan mau tidak mau, Radin harus menerimanya. Sejak itu, ia harus dirawat di rumah sakit jiwa, karena terkadang ia masih belum bisa mengendalikan dirinya ketika mendapati serangan secara mendadak.
“Ada orang yang mengawasiku.” Radin cemas.
“Tidak ada Radin, hari sudah gelap.” Jawab suster yang sedang menemani Radin.
Radin memegangi kepalanya. “Awas, ada yang mengawasimu!”
“Seseorang ada di belakangmu.”
“Bersembunyi!”
“Pergi dari sini atau kamu akan celaka!”
Suara-suara itu muncul lagi, Radin tidak kuasa menahannya. “Tidaakk!” Ia berlari dari tempat itu, menuju kamarnya, lalu seakan menguncinya dari dalam—tapi kenyataannya tidak.
Radin duduk dengan memeluk kedua kakinya di atas ranjang rumah sakitnya. “Tidak, orang-orang itu sudah pergi.”
Tok tok tok!
“Siapa?!”
“Ini bunda sayang..”
Radin berlari ke arah pintu lalu membukanya dan menemukan bundanya. Ia memeluk bundanya itu. “Radin takut bun… orang-orang itu terus menerus mengikuti Radin..”
Bunda Radin mengelus pelan rambut Radin. “Jangan takut, bunda selalu ada buat Rad…”
Radin merasa berat menahan beban bundanya. Ia merasa sesuatu terjadi pada bundanya. “Bun..” panggilnya pelan dan tidak ada jawaban.
Lalu disentuhnya bahu bundanya itu, mendorongnya pelan, agar ia dapat melihat wajahnya. “Bunda!” teriakan Radin berhasil membuat suster yang sedang berjalan melintas lewat depan kamar inapnya berlari ke arahnya.
“Ada apa Radin?”
Radin hanya menangis. Suster berusaha menarik tubuh perempuan kesayangan Radin itu. Namun ia terjatuh, begitu pula dengan tubuh bunda Radin. “Dokterr! Suster!” suster itu berteriak, berharap seseorang dapat menolongnya. Sampai seorang dokter dan suster mendekati mereka.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada bunda, Radin?”
“Kamu mau bundamu mati?”
“Kamu sudah menyakiti bunda, Radin!”
“Bunda capek mengurusimu yang manja!”
Suara-suara mengerikan itu muncul lagi di kepala Radin. “Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa kepada bunda!” Teriaknya sambil menjambak rambutnya sendiri.
Dokter meminta satpam untuk membantu dua orang suster membawa bunda Radin. Sedang ia akan menenangkan Radin yang sedang kacau. “Radin.. yang tenang ya.. bundamu tidak apa-apa, bukan salahmu juga..”
Radin hanya menggeleng.
“Radin sekarang harus tenang dulu kalau besok mau ketemu bunda, ya?”
Radin mengangguk, menurut pada ucapan dokter itu.
“Sekarang masuk ke kamar ya, Radin istirahat dulu ya?”
“Tidak mau, Radin maunya sama bunda.”
“Tapi bunda juga sedang istirahat. Radin tidak mau mengganggu bunda kan ya?” dokter itu berusaha membujuk Radin.
“Ya sudah.” Radin akhirnya menurut. Lalu masuk ke dalam kamar rawatnya. Dari luar ia dikunci oleh dokter itu, agar tidak kabur.
Radin juga manusia biasa. Ia tetap bisa merasakan kesedihan, karena hatinya tetap sama dengan manusia awam. Terkadang Radin merasa, apa gunanya ia hidup di dunia ini. Yang Radin tahu, ia hanya merepotkan. Tidak bisa melakukan apa-apa. Seperti sekarang ini, ketika bundanya sakit, ia malah terhalang penyakit.
Dokter itu membuang napas. “Maaf Radin, bundamu sudah tidak ada.” Ketidakberanian dokter itu membuatnya terpaksa berbohong pada Radin. Ia takut Radin mengamuk lebih parah lagi. Karena ia tahu bagaimana rasa sakitnya ketika kehilangan seorang ibu—dunia akan terasa runtuh, hati akan terasa disayat-sayat. Dokter itu menangis, sembari berjalan meninggalkan kamar rawat Radin.
Keesokan harinya Radin menanyakan keberadaan bundanya pada suster yang membawakannya sarapan. “Suster, bunda Radin dimana?”
Suster itu tersenyum miris, hatinya seakan teriris. “Nanti Radin bakal tahu kok. Sabar ya.”
“Tapi Radin maunya ketemu sekarang suster..”
Suster itu semakin tidak kuat lagi. Ia hanya mengelus rambut Radin dengan senyum yang ia paksakan. Lalu ia keluar dari kamar rawat Radin.
Radin tidak menghabiskan sarapannya, bahka ia malah membanting gelas susunya hingga pecah, tak tersisa. Dokter yang semalam menolong Radin masuk ke kamar rawat Radin. Ia kaget melihat pecahan gelas itu, lalu ia meminta seorang suster untuk membersihkannya.
“Radin..”
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya mata Radin yang memandang ke arah depan dengan tatapan kosong.
“Kita ketemu bunda Radin yuk.”
Dokter itu menuntun Radin untuk duduk di kursi roda yang telah ia persiapkan. Lalu mendorongnya menuju tempat peristirahatan terakhir bunda Radin.
Lamunan Radin terhenti ketika ia sampai di depan sebuah tanah yang berlubang. Tiba-tiba hatinya sakit. Ia merasakan perasaan yang dulu pernah ia rasakan sebelumnya—kehilangan. Dulu, sebelum ia terkena Skizofrenia, ia kehilangan ayahnya. Lewat tragedi kecelakaan yang juga melibatkanya. Sekarang, ia harus kehilangan bundanya.
“Bunda?”
Dokter yang ada di belakang Radin hanya menatap Radin dengan perasaan ibanya.
“Bunda kenapa dok?”
Dokter itu berlutut di samping kursi roda. “Maaf Radin.. sudah saatnya bunda pergi..”
Hati Radin sakit mendengarnya. Tangisnya tidak dapat ia bendung lagi. Tubuhnya sudah lemas, seakan angin telah membawanya terhempas. “Tidak! Bunda tidak boleh pergi!”
Radin menjatuhkan tubuhnya dari kursi rodanya. Tubuh perempuan kesayangan satu-satunya itu sudah tertutupi oleh tanah. Tapi tangis Radin terus bergema semakin parah. Kepalanya serasa ingin pecah.
“Bunda apa tidak sayang Radin? Kenapa bunda ninggalin Radin?”
“Ini semua salahmu!”
“Dasar hanya merepotkan saja!”
“Ahahaha.. bunda sudah pergi dan kamu lah penyebabnya!”
Suara-suara itu muncul lagi dan lagi. Jika sebelumnya Radin hanya menjambaki rambutnya, sekarang ia bahkan melukai tangannya dengan batu yang ia temukan. Radin depresi.
Sebelum semakin mejadi-jadi, dokter dan suster yang ikut pemakaman itu, berusaha membawa tubuh Radin pergi dari tempat itu. Mereka tidak mau Radin semakin mengacau. “Tidak! Radin mau menemai bunda! Radin sayang sama bunda! Jangan bawa Radin pergi dari sini!”
Radin kehilangan separuh dari dirinya. Satu-satunya keluarga yang peduli padanya telah pergi. Ia tidak punya siapa-siapa lagi, depresinya semakin menjadi-jadi, masa depannya sudah tidak dapat dibayangkan lagi. Dulu, Radin kecil bercita-cita ingin menjadi seorang psikolog. Mengapa? Karena sejak awal Radin tahu jika tidak ada yang namanya orang gila, mereka hanya sakit mental, sehingga jiwa mereka terganggu. Tapi mereka sama seperti orang pada umumnya. Hanya saja orang-orang merasa takut, risih, bahkan jijik pada mereka.
“Dasar orang gila! Ngimpinya ketinggian sih.” Ucap seorang teman Radin yang sangat ia ingat.
Bunda Radin selalu mengatakan pada Radin, “mimpimu mulia, sayang.. yang terpenting jangan hanya memikirkan dirimu sendiri, lihat sekitar kita, banyak orang yang membutuhkan kita. Dan jangan lupa, buktikan pada mereka yang pernah meremehkanmu, kalau kamu bisa lebih dari mereka.”
Dan Radin akan selalu mengingat kata-kata bunda itu. Ia harus bisa buktikan pada bundanya dan pada semua orang bahwa seorang pengidap Skizofrenia juga bisa sukses. Radin akan berusaha untuk sembuh—demi bundanya.
Impian Radin nanti ketika ia sudah menjadi seorang psikolog adalah ia ingin menyosialisasikan pada semua orang bahwa mental disorder itu tidak boleh dianggap remeh. Terkadang juga kita tidak menyadari bahwa jiwa kita sebenarnya sakit, atau bahkan kita malu untuk mengakuinya. Kalau merasakan sesuatu yang mengganjal dan berbeda, sebaiknya kita konsultasikan kepada yang ahlinya, agar tidak terlambat.
Radin menulis sebuah surat untuk dirinya di masa depan,
Hallo Radinta yang baru!
Aku Radinta di masa lalu. Mungkin nanti dan sekarang kita adalah dua hal yang berbeda. Namun percayalah, kita adalah dua insan yang sama. Kamu ada karena aku. jangan takut untuk berbeda, keberanian itu akan mengantarmu menuju diri yang lebih baik lagi. Hidupmu tidak sesempit itu, jangan lupakan sekitarmu! <3
















stay alive, everyone :)

you’re not alone.

<3

Komentar