“Ini apa?”
“Untukmu.”
Laki-laki
itu tersenyum. “Terima kasih dan maaf.”
“Maaf
untuk apa?”
“Tidak
apa.”
“Sa..”
“Ya?
Kenapa?”
Radin
menatap Aksa. Kamu tahu perasaanku, Sa,
tapi kenapa sikapmu seolah-olah tidak tahu? Apa memang karena kamu tidak
merasakan perasaan yang sama? Tidak. Aku tidak butuh itu. Aku hanya ingin
mencintaimu dan melihatmu bahagia. Itu saja sudah cukup, Sa.
“Din?”
“Eh
ya? Tidak. Tidak jadi. Baik-baik ya.”
“Aku
bukan anak kecil, Din.”
Radinta
tersadar dari lamunannya. Semalam ia mengingat percakapan terakhirnya dengan
Aksa, sebelum Aksa pergi. Semesta, Aksa
baik-baik saja kan?
Akhirnya
Radin memutuskan untuk mengirimkan sebuah pesan kepada Aksa.
‘Aksa baik-baik ya,
semesta akan selalu menjagamu.’
Aksara
Putra Angkasa. Ya. Dia adalah orang yang berhasil mencuri hati Radin. Dan dia
juga yang mematahkannya. Aksa tahu bagaimana perasaan Radin padanya. Namun
perasaan mereka berbeda, Aksa tidak merasakan apa yang Radin rasakan. Cinta
Radin hanya sebatas angan-angan.
Segala
hal yang dilakukan Radin untuk Aksa, belum bisa membuat Aksa membuka hatinya
untuk Radin. Entah masa lalu apa yang membuatnya sulit untuk membuka hati.
Padahal perasaan Radin tidak main-main. Radin tidak akan menjatuhkan hatinya kepada
sembarang orang. Aksa bukanlah laki-laki yang banyak digilai oleh perempuan. Aksa
hanya laki-laki yang biasa saja. Yang Radin tahu, perasaannya pada Aksa dimulai
dari rasa nyaman. Sampai akhirnya, Radin sadar. Ia jatuh hati pada Aksa.
Semesta
menghukum Radin. Aksa pergi dan menyisakan memori yang tak kunjung berhenti. Radin
pikir, dengan menunggu Aksa sekian lamanya akan membuat Aksa berbalik. Namun,
nyatanya tidak.
Bolehkah sebentar saja
berbalik? Tidak lama. Hanya sebentar, pikir
Radin selalu.
Siang
itu Radin sedang berada di sebuah tempat dimana dia bisa melihat langit dengan
puas. Tempat dimana hanya Radin yang tahu. Ia baru saja kabur dari rumahnya,
padahal ia sedang sakit.
Detik
itu, langit yang tidak memberi aba-aba berubah menjadi mendung. Hujan turun dan
Radin tidak berusaha menghindarinya. Sudah
terlanjur basah, sekalian saja, pikir Radin.
Radin
berdiri, dan bergerak meninggalkan tempat itu. Berjalan tanpa arah dengan tubuh
yang terlihat lelah. Ayo Radin! Kamu
harus kuat! batinnya.
Kenyataannya mata Radin sudah mulai berkaca-kaca, ia
ingin menangis, tidak kuat lagi. Namun Radin tetap berusaha untuk tidak menangis
lagi. Tapi tidak bisa dipungkiri, Radin tetap Radin, yang selalu menyembunyikan
tangisnya di bawah hujan.
Tubuh Radin sudah lemah, tidak kuat lagi, ia terduduk
di bawah derasnya hujan.
Sebuah
payung berada di atas Radin, membuat tubuhnya terhindar dari terpaan hujan.
“Tidak baik hujan-hujan.”
Radin
mendongak.
“Berdiri
dan ikut aku.”
“Ghara?”
“Ayo
cepat.”
Radin
berdiri, menurut saja dengan Ghara. Namun tubuh Radin yang sudah lemah membuat
langkahnya patah-patah.
Ghara
berbalik, melihat wajah Radin yang pucat pasi. “Kalau tidak kuat jangan dipaksa.”
Radin
menunduk, lalu terduduk.
Ghara
mengulurkan tangannya pada Radin. “Sini, aku bantu.”
Radin
menerima uluran tangan Ghara. Lalu berdiri. “Maaf.”
“Ayo
naik.” Ghara meminta Radin untuk naik ke punggungnya—untuk menggendong Radin.
Radin
hanya menampakkan wajah bingungnya.
“Ayo
cepat, hujannya semakin deras.”
Akhirnya
Radin sudah berada di punggung Ghara dengan memegang payung untuk menghindari
derasnya hujan. Namun kenyataannya sama saja, mereka sudah sama-sama basah
terkena hujan.
Sampai
di sebuah angkringan mereka berhenti. Ghara menurunkan Radin, lalu berjalan masuk
ke angkringan itu. Radin hanya mengikuti langkah Ghara.
“Teh
hangat 2 ya, pak.”
“Baik
mas.”
Ghara
berbalik menatap Radin.
“Apa?”
“Rumahmu
mana?”
“Tidak
ku bawa.”
“Ini
mas, mbak, tehnya.” Pemilik angkringan itu meletakkan 2 gelas teh di hadapan
Radin dan Ghara.
“Terima
kasih, pak.”
Ghara
memberikan handuk kecil yang ada di saku jaketnya pada Radin.
“Sedikit
basah, tapi tidak apa. Daripada tidak ada.”
Radin
menerimanya. Lalu menggunakannya untuk mengelap wajahnya yang basah karena
hujan. Setelah itu, Radin meletakkan tangannya ke gelas teh, berharap mendapat
kehangatan. Sedangkan Ghara meneguk perlahan tehnya, karena panas.
“Rumahmu
mana?” Ghara
bertanya lagi pada Radin.
“Tadi
sudah ku jawab.”
“Letak
rumahmu.”
“Untuk
apa?”
“Kamu
tidak mau pulang?”
“Tidak
ada yang menungguku pulang.”
Ghara
hanya diam mendengar jawaban Radin.
“Kamu
Saghara Altair kan?”
Ghara
tertawa pelan. “Se-ansos itu kamu
sampai nama teman sekelas pun harus bertanya.”
Radin
memutuskan untuk diam. Lalu meneguk perlahan tehnya.
Sudah
setengah jam. Dan tidak ada percakapan di antara keduanya. Hujannya masih awet,
seakan menunggu obrolan mereka.
“Aku
baru sadar.”
Radin
hanya menatap Ghara.
“Wajahmu
pucat. Kamu sakit ya?”
Radin
mengalihkan pandangannya dari Ghara. “Tidak.”
Ghara
menyentuh kening Radin. Panas. “Kamu sakit.”
“Sudah
ku bilang tidak ya tidak.”
Ghara
hanya menatap Radin.
Radin
merasa tidak nyaman diperhatikan oleh Ghara. “Apa sih?”
“Keras
kepala ya kamu.”
“Baru
tahu?”
Ghara
tersenyum kecil. “Sukanya diem sih kamu.”
Hujan
sudah mulai reda. Radin ingin segera pergi dari tempat itu.
“Mau
ke mana?” Ghara menarik pelan Radin yang baru saja berdiri dan berniat
meninggalkan tempat itu.
“Ke
mana saja yang penting tidak di sini.”
“Kamu
kan lagi sakit?”
“Bilang
saja mau ikut.”
Setelah
membayar Ghara berjalan ke arah Radin yang sudah berada di luar angkringan.
Mereka berjalan bersama, tapi tidak seiringan. Radin berjalan di depan, dan
Ghara mengekor di belakangnya.
Sudah
lima menit dan tidak ada percakapan di antara keduanya. Seperti dua orang
asing.
“Ghar?”
Ghara
menatap Radin. “Ya?”
“Kita
mau ke mana?”
“Terserah
kamu.”
“Tapi
aku tidak punya tujuan.”
Ghara
menarik lengan Radin. Membawanya ke suatu tempat.
Waktu
menunjukkan pukul 5 sore. Senja sebentar lagi akan muncul. Apa senja akan muncul hari ini? pikir Radin.
Ghara
membawa Radin ke tempat yang sedikit tinggi. Mereka duduk di sana dan hanya ada
suara burung-burung yang akan kembali ke sarangnya.
Sampai
akhirnya Radin membuka suara. “Ghar?”
Ghara
yang merasa terpanggil menggerakkan kepalanya ke arah Radin.
“Menurutmu,
senja akan datang atau tidak Ghar?”
Ghara
kembali menatap depannya. “Mungkin.”
“Kok
mungkin?”
Ghara
menunjuk ke arah langit. “Lihat itu, ada pelangi.”
Radin
ikut menatap ke arah pelangi itu. Indah,
batin Radin.
“Kenapa
kabur dari rumah?”
“Tidak kabur.”
Setelah
hujan, lalu pelangi, dan kini langit menampakkan semburat jingganya. Semesta
sedang berbaik hati kali ini.
“Lihat
kan senja datang.”
Radin
tersenyum. “Sehabis senja apa Ghar?”
“Gelap.”
“Langit
mengajarkan kita sesuatu Ghar, bahwa yang indah belum tentu berakhir dengan
indah juga. Seperti langit indah yang kadang diakhiri dengan senjanya yang
indah, kadang juga senja tidak hadir Ghar.”
Ghara
menatap wajah Radin dengan senyum. “Bagaimana hatimu sekarang?”
“Baik.”
Radin tersenyum. “Terima kasih untuk hari ini, Ghar.”
“Tidak
masalah.”
Radin
menatap Ghara. “Ghar..”
“Ya?”
“Terkadang
semesta tidak sebaik yang kita kira ya.”
“Semesta
itu baik, Din.”
“Buktinya
aku dipertemukan dengan..."
“It’s
okay not to be okay, tapi kamu tidak mau kan kalau not to be okay terus?”
“Tapi
kan.. aku..”
“Aku
tidak apa-apa?”
Radin
hanya diam.
“Seperti
namamu—Radinta Semesta, jadilah seperti semesta ini, Din. Tetap indah meskipun
manusia selalu berusaha menghancurkannya. Semesta itu baik, Din, dan kamu
juga.”
“Aku
bukan semesta. Dan kalau memang semesta baik, kenapa semesta mempertemukan aku
dengan dia yang hanya menyakiti?”
“Itu
sudah takdir.”
“Lalu
aku harus bagaimana?”
“Mengikhlaskannya,
dan kamu akan menemukan sesuatu yang baru, yang lebih indah darinya.”
Radin
bungkam oleh ucapan Ghara. Dari mana dia
tahu?
Ghara
menepuk pelan pundak Radin, seakan berkata yang
kuat, Din.
Perasaan
nyaman menjalar di tubuh Radin. Iya. Radin mengakui. Beberapa jam bersama Ghara
membuat rasa nyaman yang dulunya hanya ada saat bersama Aksa, muncul.
“Aku
pulang dulu.”
Ghara
berjalan meninggalkan Radin yang masih bungkam.
Pulang.
Radin pulang dan menuju kamarnya. Di atas kertas ia menulis sesuatu.
Semesta, kau menang.
Dia yang selalu
terkenang, selalu menggenang.
Lima tahun dan itu
sudah cukup berlinang.
Memang kenyataannya aku
harus dibuang.
Semesta, aku salah.
Dia yang ku kira rumah
ternyata hanya tempat singgah.
Arah langkahku
dengannya tak sejalur.
Dan jauhnya tak
terukur.
Semesta, aku kalah.
Dia yang ku kira indah,
ternyata hanya menciptakan nanah.
Aku menyerah.
Dan akan pergi tanpa
arah.
Radin
melipat kertas itu menjadi origami burung bangau. Lalu meletakannya di dalam
sebuah kotak yang berisi tumpukan origami berpuisi.
Ghara
benar, Radin harus mengikhlaskan Aksa. Buat apa memperjuangkan yang tidak mau
diperjuangkan? Sia-sia saja kan.
Abu-abu.
Ragu. Radin ragu untuk selangkah lebih maju menjauhi Arka. Perasaan Radin pada
Arka semakin abu-abu. Tidak menemukan titik terang. Radin ingin menyerah.
Benar-benar menyerah.
Radin
tenggelam dalam lamunannya. Suatu hari
nanti, di hari-hari yang baru, aku akan bersama seseorang yang juga mencintaiku..
-selesai-
Komentar
Posting Komentar